Home » RAGAM » BERITA » Salam Hangat Dari Sekolah Alam Bengawan Solo

Salam Hangat Dari Sekolah Alam Bengawan Solo

 

                Diawali dari perbincangan ringan di warung Buk Yo, dan akhirnya ngelantur sampai perbincangan mengenai Sekolah Alam Bengawan Solo (SABS) di Klaten. Dengar dari isu yang beredar, SABS memiliki sistem pendidikan yang berbeda dengan sekolah formal lainnya. Kebetulan salah satu pengajar di sana adalah rekan kami, anggota Ajusta Brata, yaitu Mbak Lia. Oleh karena itu, kami terpikir untuk mengajak teman-teman lainnya bersilaturahmi dan sedikit meninggalkan ilmu di sana.

                4 April 2015, pukul 08.00, kami sudah bersiap untuk berangkat ke SABS. Rencana kami disana akan mengajarkan adik-adik berkreasi membuat boneka dengan kertas kokoru dan mengajak adik-adik untuk rapling. Rapling merupakan salah satu teknik untuk turun dari tempat yang tinggi dengan menggunakan tali. Keberangkatan kami sempat terhambat karena kami tidak dapat mengambil peralatan rapling di dalam sekretariat Ajusta Brata yang terkunci. Hal ini dikarenakan adanya kebijakan dari Fakultas Teknik yang tidak memperbolehkan aktivitas di sekretariat pada hari Sabtu dan Minggu kecuali ada ijin resmi dari pihak kampus. Kebijakan ini agak memberatkan kami, karena beberapa kegiatan kami merupakan kegiatan yang sifatnya otodidak dan sangat bergantung pada peralatan yang kami simpan di sekretariat. Sementara akses ke sekretariatan sedang dilobby, 4 orang dari kami, yaitu Nadia, Dewi, Vania, dan Mas Gentar, berangkat terlebih dahulu ke SABS. Anis menyusul langsung ke lokasi SABS karena berdekatan dengan rumahnya.

                Sesampainya di SABS, kami disambut dengan anak-anak yang menunggu dengan ceria. Kegiatan di SABS di hari Sabtu ini bersifat bebas dan tidak menuntut semua anak untuk hadir. Walaupun begitu, anak-anak yang hadir hari itu lumayan banyak dan bersemangat menyambut kami semua. Kami pun langsung menuju ke kelas yang berlokasi di tepi Sungai Bengawan Solo itu. Kami melalui pintu masuk berbentuk lingkaran seperti dalam film The Hobbit, lalu melewati selasar dengan tempat duduk yang teduh di sisi-sisinya, serta tanaman pergola yang menjuntai-juntai menambah kesan asri pada area belajar SABS. Kelas yang kami pakai merupakan rumah panggung yang terbuat dari kayu dan bambu. Pemandangan yang hijau di bantaran Sungai Bengawan Solo dapat terlihat jelas dari kelas yang kami gunakan.

g1

Pintu masuk lingkaran seperti film the hobbit

g2

Suasana hijau yang sejuk dengan rumah-rumah panggung di SABS

 

                Setelah selesai berkenalan, kami mulai mengajari adik-adik membuat prakarya berupa boneka beruang dari kertas kokoru. Sebelumnya, Dewi mengeluarkan contoh boneka yang telah Ia buat. Adik-adik terlihat bersemangat untuk mencoba membuatnya, mereka pun langsung memilih warna kokoru sesuai dengan keinginannya. Nadia ikut membantu adik-adik membuat boneka kokoru, sedangkan Vania, Anis, dan Mas Gentar sibuk mendokumentasikan kegiatan, dan sesekali membantu adik-adik. Yang membuat adik-adik SABS ini berbeda dengan adik-adik di sekolah formal lainnya adalah karakter yang mereka miliki, yaitu keingintahuan yang tinggi, keberanian, keakraban dan toleransi yang tinggi. Karakter tersebut terasa saat pertama kali kami mengisi di sana. Mereka dengan akrabnya bersenda gurau dengan kami, walaupun mereka baru berkenalan dengan kami. Mereka juga dengan aktifnya mengajukan beberapa pertanyaan. Ada yang bertanya “Ka, ko namanya kertas kokoru, seperti nama Jepang. Asalnya dari Jepang ya?” “Ka, ini bisa dibikin selain bentuk beruang?” “Ka, ko ini yang buat tangan bentuknya lebih kecil?” dan sebagainya. Adik-adik yang kami ajarkan usianya beragam, sehingga kemampuannya pun beragam. Namun, perbedaan tersebut tidak menghambat kegiatan ini karena mereka saling membantu satu sama lain dalam membuat prakarya terebut.

 g3

Dewi dan Nadia memberi instruksi, Adik-adik saling membantu saat mengerjakannya

 

                Prakarya pun selesai dibuat, beruang beragam warna karya adik-adik SABS menghiasi kelas hari ini. Mereka bangga dengan hasil karyanya, “Ka, ini boleh dibawa pulang kan?” Kata beberapa dari mereka yang ingin menunjukkan hasil karyanya kepada orangtuanya atau memberikannya kepada adiknya di rumah. Bahkan ada yang membuat dua boneka, dengan sedikit modifikasi hasil karya sendiri. Dan ada pula yang ingin mencoba-coba bentuk lainnya. Adik-adik pun dipersilahkan membawa sisa kertas untuk berkreasi di rumahnya masing-masing.

 g4

Bangga dengan hasil karyanya

 

g5 

Foto Bersama setelah karya selesai dibuat

 

                Saat kami sedang berkarya, Mas Yocky, Mas Ucup, Mas Jiwo, dan Mas Ikhwan datang menyusul kami ke SABS dengan membawa peralatan rapling. Peralatan tersebut langsung dipasang, sehingga saat kami usai dengan materi prakarya, adik-adik dapat langsung diajak untuk rapling. Beberapa anak berani dan bersemangat untuk mencoba, beberapa lagi sedikit takut untuk mencoba, namun pada akhirnya ikut mencoba juga. Deg-degan campur senang dirasakan adik-adik saat mencoba lintasan rapling yang dipasang di rumah pohon SABS. Saking senangnya, ada yang mencoba sampai 3 kali. Tak lupa kami mendokumentasikan kegiatan ini. Ternyata, salah satu adik SABS ini ada yang memiliki bakat fotografi yang diturunkan dari ayahnya. Dia pun diberi kesempatan untuk menggunakan kamera yang dipegang Vania.

g6

Menonton temannya yang sedang rapling

 

g7

Anak-anak rapling dari rumah pohon dan berkreasi dengan kamera

 

                Tak terasa waktu sudah siang, kami beristirahat di salah satu rumah panggung SABS sambil berbincang-bincang dengan Pak Suyudi. Beliau merupakan pemilik SABS ini. Berangkat dari keprihatinan dengan kondisi mental korupsi pejabat-pejabat yang sering diberitakan di media, beliau pun mendirikan dan membangun sendiri Sekolah Alam ini dengan biaya pribadi dan motivasi untuk memperbaiki mental masa depan bangsa. Sistem pendidikan di SABS ini sangat berbeda dengan sistem pendidikan di sekolah-sekolah formal lainnya. Sekolah Alam ini tidak berusaha menyeragamkan kemampuan anak didiknya dengan memaksakan anak didiknya untuk mengikuti kelas. Ruang-ruang kelas pun lebih bersifat terbuka, melatih anak-anak untuk tetap berinteraksi dengan sekitarnya. Pendidikan karakter di sekolah ini lebih diutamakan, dimana anak-anak didiknya dilatih untuk memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, keberanian, kejujuran, toleransi, kreativitas, dan karakter baik lainnya. Pendidikan karakter ini dilakukan dalam aktifitas yang beragam, seperti bercocok tanam, berjualan, memetakan daerah sekitar, dan mempresentasikan buku harian bergambar yang ditulis setiap hari. Pak Suyudi dengan bangga memamerkan buku harian anak-anak didiknya. “Apabila saya susah tidur, saya suka membaca buku-buku ini dan tersenyum sendiri,” sahut Pak Suyudi. Dari buku ini, perkembangan karakter anak bisa terlihat. Dengan buku harian ini, anak-anak dapat mengolah skill menulis, menggambar, dan berbicara di depan publik. Selain kegiatan yang disebutkan, masih terdapat banyak ragam kegiatan lainnya. SABS sendiri terbuka untuk siapa saja yang ingin mengunjungi, bahkan yang ingin berpartisipasi mengisi kegiatan disana.

Berita Terbaru
June 2019
M T W T F S S
« Jan    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930